Lulus 100% dengan Jujur

Refleksi Pelaksanaan Ujian Nasional 2017

Oleh: ISO SUWARSO, M.Pd

(Penulis adalah Wakil Kepala SMA Negeri 1 Matauli urusan Humas, tinggal di Pandan)

Pelaksanaan UN SMA akan dilaksankan tanggal 10-13 April 2017. Harapan UN untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia yang dianggap masih rendah, tampaknya kurang memiliki signifikansi. Tradisi kelulusan 100% seolah ’menghipnotis’ para pelaku di institusi pendidikan, sehingga tiap penyelenggaraan UN ada indikasi terjadi rekayasa di lapangan.

Namun, sepanjang pelaksanaan UN di negeri ini, sejumlah pelanggaran pernah tercatat diantaranya berisi tentang penyelenggaraan UN yang tidak jujur, terjadi kebocoran soal, dan penyebaran kunci jawaban. Masalahnya adalah apa arti UN dengan kelulusan 100% tapi dengan menggadaikan perilaku ketidakjujuran terjadi di lapangan?

Ujian Kejujuran

UN yang telah menjadi tradisi tahunan dalam dunia pendidikan, senyatanya dijadikan sebagai ajang untuk menguji integritas moral para pelaku dan penanggung jawab pendidikan. Sejauh mana kejujuran dijunjung tinggi selama proses berlangsung dapat menjadikan miniatur integritas moral siswa maupun guru. Sebagaimana Mendikbud dalam berbagai kesempatan menyebutkan bahwa UN sebagai ujian kejujuran bagi guru dan siswa. Prestasi penting, namun jujur yang utama dan menjunjung tinggi integritas.

Integritas moral siswa dapat tercermin melalui perilaku jujur dalam mengerjakan soal dan tidak berupaya mencari celah bocoran atau jawaban. Integritas siswa ini dapat dibangun dengan menumbuhkan kesadaran bahwa perilaku tidak jujur merugikan diri sendiri ataupun orang lain. Sedang integritas moral guru dapat tercermin melalui sikap guru yang menghargai nilai kejujuran siswa dan menegakan aturan yang ditetapkan dalam prosedur pelaksanaan UN dengan sungguh-sungguh.

Sekolah sebenarnya memiliki potensi yang paling efektif bagi pembentukan karakter anak didik. Namun, jika yang mereka saksikan adalah rusaknya moralitas para pendidik, maka gagasan sekolah sebagai pembentuk nilai-nilai kejujuran akan pudar. Ketika anak tidak lagi belajar arti kerja keras dan nilai-nilai kejujuran, sebenarnya bangsa ini sedang mempersiapkan lahirnya generasi penerabas yang menggemari jalan pintas, dan pembunuh nurani. Sebagaimana Frans Magnis Suseno (2006) pernah berkata bangsa ini sedang berada di tepian kehancuran.

Pada setiap kali pelaksanaan UN, senyatanya merupakan momentum untuk mengembalikan lembaga pendidikan sebagai agen pembentukan karakter. Untuk itu, cara paling ampuh adalah bercermin diri bagi semua pelaku pendidikan. Membangun kejujuran dalam dunia pendidikan dengan memberikan keteladanan yang baik dari seluruh pelaku pendidikan.

Melihat kecurangan UN bukanlah fenomena steril yang bisa dipisah dengan konteks kebijakan itu lahir. Kecurangan bisa berarti sebuah ekspresi rasa frustrasi guru dan siswa akibat ketidak-berdayaan menghadapi tuntutan sebuah kebijakan. UN memikul beban terlalu berat ketika siswa “wajib” lulus. Benar sekali, UN adalah ujian kejujuran, bukan untuk guru dan siswa melainkan juga bagi para pengambil kebijakan. Dan kejujuran tidak untuk digadaikan!

Refleksi

Ada kesepakatan, bahwa pendidikan sebaiknya berorientasi pada nilai-nilai. Pendidikan tidak boleh terbatasi pada sekadar transfer pengetahuan dan keahlian fungsional. Tak kalah penting adalah pengembangan jati diri dan kemampuan mengkritisi serta menularkan nilai dasar bersama, seperti halnya kejujuran, keadilan, kerja keras, kesederhanaan, disiplin dan kebersaamaan.

Perlu untuk ditekankan, prestasi anak didik tidak akan dicapai optimal jika disiapkan dengan gaya belajar yang instan, hanya jelang ujian dan meninggalkan upaya kerja keras yang diteladankan para pendidik. Bila tujuan pendidikan adalah memerdekakan manusia, perlu disadarkan, pribadi yang merdeka bukan yang laissez faire, tetapi yang mampu mempertanggungjawabkan kemerdekaannya. Selain itu, meski sistem pendidikan sebaiknya terkait dengan dunia praktis, itu bukan berarti melulu berbicara tentang ’materialisasi’ pendidikan yang mengedepankan konsep ’siap pakai’ bagi dunia lapangan. Akan tetapi hal-hal mendasar yang menyangkut dengan karakter dan penanaman nilai-nilai luhur sebagai amanah pendidikan adalah sebuah keniscayaan.

Adalah tidak sehat untuk mempersoalkan posisi benar dan salah dalam hal ini. Fakta yang telah terjadi adalah sebuah akibat dari kekeliruan yang panjang dalam proses pembelajaran pada anak didik. Juga adalah kenyataan bahwa semua itu merupakan indikasi kegagalan pendidikan yang seharusnya  berperanan menghasilkan manusia yang tidak hanya rasional, tapi juga yang berbudi luhur.

Diperlukan sistem pendidikan yang memberikan ruang bagi anak didik untuk bersaing dan berkreasi secara fair. Lembaga pendidikan pun perlu dibebaskan dari kungkungan birokrasi yang tambun dan njlimet. Dalam hal suasana ajar-mengajar, metoda dialogis, diskusi dan ’mempertanyakan’ untuk mencari kebenaran harus terbuka lebar bagi anak didik.

Sebagian dari butir-butir harapan itu masih menjadi mimpi yang dalam waktu dekat sulit untuk dijangkau. Masih butuh waktu. Akan tetapi apakah anak didik selalu menjadi korban? Kita tidak sedang mencari siapa yang salah tetapi sedang  mencari jalan keluar dari kesesatan ini. Masihkah ada jejak yang tinggal, untuk membangun pendidikan dengan jalan yang jujur? Semoga!(**)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s