Mengajar dengan Cinta

Belakangan ini, di berbagai media merilis berita tentang gejala kuat yang mengindikasikan adanya krisis karakter. Dalam taraf tertentu, gejala itu sudah menjadi realitas konkrit.

Dalam tataran kehidupan bernegara misalnya, tindakan berbau koruptif kian merebak. Sedangkan dalam tataran kehidupan masyarakat, berkembang beragam bentuk kejahatan, disorganisasi sosial, dan jenis penyakit sosial lain yang bervariatif. Dan dalam tataran kehidupan keluarga, timbul berbagai tindak kejahatan seperti penganiayaan, pornografi, pembunuhan, pencabulan, pemerkosaan dan semacamnya.

Fenomena yang muncul di tengah kehidupan yang sedang beranjak modern tersebut tak lain menunjukkan sebuah paradoks dari proyek modernisasi kehidupan bangsa saat ini. Artinya, kehidupan modern manusia, termasuk yang sedang dijalani bangsa kita, sudah semakin menunjukkan dua wajahnya yang antagonistik. Di satu sisi modernitas telah berhasil menunjukkan kemajuan spektakuler, khususnya dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi serta kemakmuran fisik. Namun pada saat sama, ia juga menampilkan masalah kemanusiaan yang buram yaitu berupa krisis kemanusiaan yang mengarah pada gejala kesengsaraan rohaniah seperti terlihat di atas. Bagaimanakah  peranan pendidikan di tengah jaman yang keblinger ini?

            Ada setumpuk harapan yang disandarkan pada dunia pendidikan. Masyarakat berharap, mampukah pendidikan melahirkan generasi yang berkarakter baik? Sebuah keinginan yang bisa dikatakan berlebihan, meski sesungguhnya amat wajar, mengingat pendidikan sebagai tumpuan solusi dari sekian banyak persoalan dan problem kemasyarakatan. Pendidikan pada hakekatnya adalah perubahan perilaku, dengan mengikuti kerangka berpikir seperti ini, sudah selayaknya proses pendidikan yang berjalan di lorong kelas-kelas sekolahan sanggup mengubah sikap dan membangun perilaku sesuai harapan.

 

 

Mengajar dengan Cinta

Harus diakui, dunia pendidikan kita saat ini sangat krisis akan bentuk keteladanan. Krisis keteladanan pada akhirnya menjadi bagian dari deret panjang keterpurukan bangsa ini dalam pendidikan. Berbagai persoalan potret buram anak sekolahan menghiasi berita media tiap harinya.

Praktik kekerasan yang dilakukan para pelajar di sekolah, tawuran dan perkelahian, mengkonsumsi minuman dan obat terlarang bahkan perbuatan yang menjurus asusila yang tak layak dilakukan oleh para pelajar. Anak didik tampak santun bila di dalam ruangan kelas, namun bertindak nakal dan berutal ketika di luar kelas. Para siswa gampang emosi dan frustasi. Kita menyaksikan bahwa tujuan pendidikan telah kehilangan jiwanya, telah dilepaskan dari esensinya. Pendidikan berubah menjadi sekedar sekolahan yang hanya meluluskan para siswanya dengan kering nilai dan karakter.

Sesungguhnya krisis multidimensi yang terjadi hingga saat ini akan semakin sulit diatasi, jika bangsa ini tidak menemukan dalam moralitas hidup dari para guru khususnya. Mengapa guru?

Guru secara etimologis berasal dari bahasa Sansekerta, gur-u’ yang berarti mulia, bermutu, memiliki kehebatan dan orang yang sangat dihormati karena kewaskitaannya. Kata gur-u’ kemudian bertemu dengan kata as’, sebuah kata yang dalam bahasa Sansekerta berarti mengajar. Saat itulah kata guru juga bermakna ’mengajar’.

Seorang pengajar bisa disebut hebat jika anak didiknya berhasil mendapatkan nilai bagus di kelas. Namun, seorang guru yang baik selalu dituntut mampu melahirkan manusia-manusia yang baik, bukan sekedar pintar. Guru dituntut tidak hanya mampu ’menggarap’ kognisi (rasio-logika) tetapi juga bidang afeksi (rasa, cipta, karsa dan sikap).

Oleh karena itu, dalam sejarah kesadaran dan ekspektasi manusia, seorang guru harus mampu mengajarkan bagaimana melahirkan dan menjadikan generasi yang baik, mampu memberikan suri keteladanan pada anak didiknya. Itu pula kiranya yang menyebabkan di sini guru (pernah) diposisikan sebagai ’manusia suci’, semacam resi yang selain pintar juga punya laku tulus nan asketis. Wujud kepribadian guru tersebut diimplementasikan dalam bentuk rasa cinta kasih kepada para siswanya sebagaimana dikutip pada awal tulisan ini.

Kita punya para guru hebat. Yang mampu melejitkan siswa berbakat merebut trofi juara di kancah dunia dalam olympiade sains dan matematika, serta melahirkan anak-anak dengan otak super. Para guru tahu bahwa mereka mampu mengajarkan ilmu pengetahuan (transfer knowledge) dengan target kurikulum yang sudah ditetapkan untuk mendapatkan nilai Ujian Nasional yang bagus-bagus. Dan mereka pun sambil ajarkan para anak didiknya tentang ajaran moralitas kejujuran, kerja keras, komitmen dan kekhusyuan doa agar mendapatkan kesuksesan. Ajarkan cinta di hati mereka!

Kita tahu, anak didik keletihan dan kelelahan memamah ilmu dari sejumlah pelajaran. Ditambah juga dengan rentang panjangnya waktu belajar, sedari pagi hingga ditambah senja. Sambil bawa beban buku di pundaknya dan jalan tertatih-tatih, apa kita masih yakin bahwa sekolahnya dapat menyenangkan? Kehadiran guru yang menyejukan adalah sebuah keniscayaan yang menghantarkan mereka pada kesalehan.

Mengajar dengan cinta dari seorang guru akan membawa kekuatan para anak didik untuk mengenali dirinya, intelektualnya, bahkan mengobati kegersangan jiwanya. Dani Ronnie M (2009) dalam bukunya The Power of Emotional and Adversity Quotient for Teacher menuliskan bahwa kasih sayang yang ikhlas dari sang guru kepada para anak didiknya akan menyebar dan gaungnya akan terasa sampai ke jiwa. Kekuatan kasih sayang dan cinta guru, sungguh akan mampu meluluhkan segala kebekuan, sanggup menyembuhkan semua rasa sakit serta ia akan menyejukan rongga-rongga kegersangan rohaniah anak didik.

Harapan para guru untuk menjadikan anak didik yang berkarakter baik akan menjadi kenyataan andai mulai dari rumah, kelas, sekolah dan masyarakat dapat memperlakukan para anak didiknya dengan sayang dan cinta. Semoga.(***)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s